Berani Nulis, Berani Kaya!
Desember 11, 2007
Paper-less di Era Multimedia dan Masa depan Print-Businesses:
101 Writing Businesses You Can Start from Home
Para pakar multimedia meramalkan, akan terjadi penafian kertas secara besar-besaran di era multimedia. Wacana itu kini tengah bergulir di kalangan civitas academica. Benarkah ramalan itu? Kalau benar, tentu saja, sebuah pukulan telak buat kita, para pekerja industri media cetak.
Mungkinkah paper-less? Bukankah ketika transaksi e-business sekalipun, kita tetap memerlukan bukti cetak? Lalu, bukti menunjukkan, di mana sebuah negara maju, maka makin tinggi pula konsumsi kertas per KK-nya.
Lantas, bagaimana masa depan industri media cetak? Peluang karier orang yang memiliki wordsmart, atawa verbal and linguistic intelligences, masihkah tetap cerah?
Temukan jawabannya pada buku:
BERANI NULIS, BERANI KAYA: 1001 WRITING BUSINESSES YOU CAN START FROM HOME yang segera diterbitkan Brilliant Book, Bandung dan akan diluncurkan pada 26 Januari nanti.
Inilah Daftar isi buku karya R. Masri Sareb Putra, pekerja kata dan staf akademik Universitas Multimedia Nusantara, Jakarta.
BAB 1
WORD SMART: BAKAT ATAU USAHA?
Kecerdasan: Tidak Hanya IQ
Redefinisi Kecerdasan
Bakat atau Usaha?
BAB 2
MENGGALI DAN MENINGKATKAN
WORD SMART
BAB 3
CARA CERDAS MENJUAL
WORD SMART
1. Administrator Web
2. Alamat Sahabat Pena
3. Artikel
4. Bahan Ceramah
5. Biografi
6. Book Mark
7. Brosur Public Relations
8. Brosur Perawatan Anak
9. Buklet Ringkas Bahasa
10. Buku Biasa
11. Buku Anak
12. Buku Teks/ Pelajaran
13. Catatan Harian
14. Cerita Bersambung (Cerber)
15. Cerita Pendek (Cerpen)
16. Co-author
17. Company Profile
18. Club News Services
19. Daftar Harga
20. Daftar Nama dan Alamat
21. Data Alumni
22. Directory Apa dan Siapa
23. Dongeng
24. Dummy Buku
25. E-book
26. E-card
27. E-learning
28. Fillers
29. Flier
30. Ice Breaking
31. Ide Cerita
32. Indeks Buku
33. Kartu Ucapan Ulang Tahun (Birthday Greetings)
34. Kartu Ucapan Datangnya Musim (Season Greeting)
35. Kartu Ucapan Hari Libur (Holiday Greetings)
36. Kartu Ucapan Hari Raya Keagamaan
37. Karya Tulisan Tangan
38. Khotbah
39. Kolumnis
40. Komik
41. Kop dan Amplop Surat
42. Kuis
43. Kumpulan Tulisan (Bunga Rampai)
44. Latihan Soal
45. Literary Agent
46. Logo
47. Mailing List
48. Managing Editor
49. Media Internal
50. Melayani Komplen
51. Membeli dan Menjual Space
52. Memo
53. Mengumpulkan Surat
54. Naskah Iklan
55. Naskah untuk Sinetron TV
56. Naskah Sandiwara/Drama
57. News Letter
58. Notulen Rapat/Seminar
59. Novel
60. Novelet
61. Paper/Makalah
62. Panduan Golf
63. Panduan Orang Tua
64. Panduan Naik Gunung
65. Panduan Perjalanan
66. Panduan Wisata
67. Pantun
68. Pengantar Buku
69. Pengumuman
70. Penulis Bayangan/ Siluman (Ghost Writier)
71. Penyunting (Pengumpul) Naskah
72. Peringatan dan Penanggulangannya
73. Peribahasa
74. Pesan/ Tulisan Politik
75. Petunjuk Rumah Tangga
76. Poster
77. Power Point Ceramah
78. Proof Reader
79. Proposal
80. Puisi
81. Reporter Lokal
82. Resensi
83. Resume
84. Ringkasan Buku
85. Riset
86. Riwayat Pribadi
87. Riwayat Rumah
88. Sejarah Kelahiran
89. Sinopsis Buku
90. Soal
91. Skripsi/Tesis/Disertasi
92. Surat Tulisan Tangan
93. Surat Kontrak
94. Surat Fans/ Penggemar
95. Surat Sosial
96. Sinopsis Sinetron/Film
97. Syair Lagu
98. Tulisan di Truk dan Angkutan
99. Tulisan di Spanduk dan Billboard
100. Teks Pidato
101. Wartawan Lepas
Entry Filed under: Buku. .
20 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
T. Budhi Suwarsono | Januari 22, 2008 at 3:56 am
Saya berkeinginan sekali untuk menulis, untuk mewujudkannya saya coba-coba mencari handbook yang berkisar pada dunia tuslis menulis mulai tahun 2002 lalu. Dari buku-buku tersebut saya terbentur mengenai tekni-teknik menulis yang sulit sekali saya terapkan. belum lagi jika seandainya sudah jadi tulisan, masih bingung bagaimana memasarkan atau mengelola tulisan tersebut untuk dijadikan pemasukan salah satu sumber ekonomi….
Setelah dapat email dan membaca review buku Berani Nulis Berani Kaya di blog ini, niat yang sempat padam itu pun muncul kembali. Di review buku ini dijelaskan bukan hanya teknik menulis tetapi juga menjual. Luar Biasa !!! Ini yang selalu saya cari. Bagaimanapun Buku ini harus secepatnya saya dapatkan….
2.
Erryza Susilo | Januari 23, 2008 at 8:03 am
Saya saat ini berstatus sebagai a working at home mom (mulai 11 januari 2008). Keputusan ini saya ambil ketika saya mulai merasakan nikmatnya menjadi penulis dan bisa bekerja di rumah, menghasilkan uang sambil tetap menjaga dan merawat kedua buah hati saya. Saya berkenalan dengan penerbit pun juga lewat internet. Jadi, saat ini saya sedang bersemangat untuk menggeluti dunia saya (yang saya rasakan telah hilang terpendam dan timbul lagi kini), yaitu dengan menggabungkan beberapa talenta dan ketrampilan yang saya miliki: membuat asesoris dari manik-manik, mengajar, menulis (karena background saya bahasa), menguasai beberapa program komputer dan fotografi. Semua bakat ini bisa saya ramu dengan manis dan terciptalan dua buah buku yang sudah terbit di tahun 2007 dan insyaallah akan membuat beberapa ebook untuk dijual di internet. Ketrampilan ini tidak bisa saya keluarkan semua ketika saya bekerja kantoran. Ya, saat ini semangat saya sedang membara, jika diperkenankan saya mendapat buku Berani Nulis, Berani Kaya ini pasti saya akan lebih bersemangat lagi. Terima kasih….. (pilih saya ya…pak..) Salam hangat dari Yogyakarta
3.
eliezer3d | Januari 24, 2008 at 4:16 am
Bekerja di rumah sudah lama jadi obsesi saya. Tapi jalan yang aku tempuh seringkali terombang-ambing oleh banyaknya tujuan, keinginan dan impian.
Buku ini seperti mercusuar bagi orang yang punya obsesi seperti saya.
Bagai pungguk merindukan bulan, menunggu buku ini tiba secara gratis di rumah saya heheh..
4.
Irfan M | Januari 25, 2008 at 7:15 am
Akhirnya saya menemukan kembali motivasi ingin menulis saat tidak sengaja membaca artikel rencana peluncuran buku ini. Jujur saja keinginan menulis sudah ada sejak saya masih di Pendidikan Menengah tahun 90-an, beberapa buku tentang teknik penulisan juga sempat saya buru dan miliki, tapi sampai saat ini belum ada satu tulisanpun yang keluar dari ide kreatif tulisan tangan saya, meski saya sudah cukup terbiasa menulis profil perusahaan, proposal bahkan pernah sekali mengirim komentar artikel di sebuah majalah nasional meski tidak pernah dimuat. Sempat terpikir ingin berkonsultasi dengan nara sumber tapi belum kesampaian juga. Beberapa waktu lalu melihat seorang anak siswa sekolah dasar dalam satu acara talk show ternama, menyampaikan kiat menulisnya bahkan dalam waktu 2 minggu saja sudah dapat melahirkan sebuah buku, luar biasa!!!. Nah saya akan menguji diri apa benar dengan buku ini, saya akan mampu memulai kembali tulisan-tulisan yang sempat tertunda (sambil menggumam dan menetapkan target bila saja buku tersebut ada di tangan saya, saya harus melahirkan buku pertama saya…..) insya Allah.
5.
Irfan M | Januari 25, 2008 at 7:21 am
Dari sinopsis daftar isi buku, paling tidak mewakili kesulitan penulis pemula seperti saya untuk mencari ide cerita……luar biasa…..mengulas singkat, padat dan berisi. Pastinya bermanfaat sebagai buku motivator penulis pemula.
6.
Mediana | Januari 29, 2008 at 8:55 am
Menurut saya, prospek dunia tulis-menulis di Indonesia akan berkembang karena Indonesia sudah mengalami globalisasi besar-besaran. Penduduk Indonesia semakin bertambah pengetahuan dengan segala fasilitas yang kini tersedia (misal internet). Jadi para siswa-siswi sekolah akan segera dapat mengetahui informasi dari segala penjuru dunia dengan cepat. Mereka akan segera haus dengan karya tulis seseorang yang berisi informasi yang tepat dan berguna bagi kehidupan mereka kelak.
Mimpi saya tentang menulis sangatlah besar. Hobi saya sejak SMA kelas 1 sampai kelas 3 ini menjelajahi dunia maya mengenai artikel, tulisan yang berguna demi memenuhi hasrat ingin tahu saya. Suatu saat nanti saya ingin berbagi kepada sesama melalui karya tulis. Olehkarena itu, saya sangat tertarik dengan buku BERANI NULIS, BERANI KAYA: 1001 WRITING BUSINESSES YOU CAN START FROM HOME
7.
pramudya | Januari 30, 2008 at 2:30 am
Kita sadar dan mengetahui bahwasannya saat ini penerbit-penerbit baru banyak sekali bermunculan, mulai dari kalangan penulis, pengusaha, perusahaan dengan penuh semangatnya mereka mau membuka usaha dalam bidang penerbitan. Padahal bila kita merunut dengan Science Economic mendirikan sebuah Penerbitan bukan hal yang mudah, karena sifat dari siklus profit mengacu kepada Istilah ” Gambling”. Tapi bagi mereka-mereka yang pandai bermain “Spekulatif” malah justru sebaliknya Dunia Penerbitan merupakan Gambaran nyata bahwa dengan Ilmu Pengetahuan maka seseorang akan mendapatkan kesuksesan atau bahkan kesejahteraan. Di sinilah kuncinya, saya yakin prospek ke depan untuk dunia Penerbitan akan berkembang lebih cepat seiring dengan ILmu Pengetahuan. Oleh sebab itu bagi kita-kita Generasi Penulis jangan pernah lesu untuk selalu menyumbangkan pengetahuannya untuk disebarluaskan kepada Masyarakat, tetapkan semangat bahwa dengan menulis Anda pun akan mendapatkan cita-cita yang telah menjadi dambaan sejak kecil.
Walau bukan sebagai penulis terkenal, tapi saya pun bangga terhadap apa yang telah selama ini saya sumbangkan ke pada masyarakat, pengetahuan ibarat lampu yang menerangi jalan. Inilah mimpi saya bahwa, dilain waktu saya akan membuat buku-buku fenomenal yang dapat membuka pikiran alam bawah sadar kita, bahwasannya hidup ini akan lebih bersemangat jika masing-masing dari kita membekali dengan Ilmu Pengetahuan.
8.
Hida Ngirhanto S | Februari 4, 2008 at 2:04 pm
Waduh!! Lagi-lagi semangat menulis saya muncul setelah hampir 20 tahun ditelan kesibukan yang monoton. Saya yakin betul bahwa keberhasilan bukan mutlak milik orang berbakat tapi juga milik orang yang tekun dan mau berusaha. Lima belas tahun menjadi pekerja kantor, ternyata malah membuat talenta saya terpuruk tak jelas arah kemana. Padahal dulu banyak ide yang menumpuk di kepala. Sejak dua tahun menjadi “sweety housewife and mother” ternyata bibit-bibit itu bernas lagi. Saya berharap buku itu akan menjadi inspirasi saya untuk menulis, menulis dan menulis lagi. Hal-hal kecil disekeliling kita, banyak yang luput untuk dicermati dan direnungkan dalam bentuk tulisan. Siapa tahu bermanfaat bagi orang lain dan juga membuat anak-anak masa depan tidak malu menuliskan dalam kolom cita-cita : “PENULIS” Kalau ada yang bertanya “mengapa?” mereka berani menjawab :”KARENA KAMI INGIN SEJAHTERA!!” b A wRiTer…..
9.
Muhamad Ali | Februari 5, 2008 at 5:47 am
1. Prospek dunia tulis-menulis menurut saya pada saat ini cukup menjajikan.Karena media saat ini telah mengalami hal yang jauh berbeda dengan saat rezim orde baru berkuasa. Sehinga dengan demikian semua banyak bermunculan media baik media elektronik maupun media lainnya. Jadi kesimpulan saya profesi di bidang tulis-menulis saat ini bisa dijadikan pegangan hidup.
2. Saya bermimpi tentang menulis, suatu saat nanti saya akan menjadi penulis buku sesuai dengan kemampuan yang saya miliki.
10.
Peni | Februari 5, 2008 at 5:52 am
Hobi membaca mengantarkan saya memasuki gerbang dunia penulisan. Kebetulan adik saya langganan majalah anak. Kalau kehabisan bahan bacaan, kadang saya baca majalah dia. Mungkin karena genre-nya beda, makanya saya sering nggak puas baca cerpen di majalah tersebut. Kayaknya ceritanya itu-itu terus. Tapi ada juga yang menarik. Ketularan deh pengen bikin cerpen sendiri. Setelah dicoba, ternyata tak segampang yang saya kira. Saya suka bercerita. Tapi terlalu bertele-tele, bahasanya amburadul dan bisa bikin anak-anak tambah bingung. Makanya saya tertantang untuk membuat cerpen anak. Soalnya cerpen anak itu unik. Kita harus pandai merangkai kata-kata sederhana menjadi menarik dan tak lupa pesan moral di dalamnya. Panjangnya pun dibatasi. Padahal saya suka menulis berlembar-lembar.
Dari 5 cerpen yang iseng-iseng saya kirim, ternyata 3 di antaranya dimuat. Honor pertama membuat saya semakin bersemangat untuk menulis. Tapi saya belum berpikir untuk menjadikannya pekerjaan utama. Kayaknya di Indonesia belum menjanjikan. Apalagi buat penulis pemula seperti saya. Harus berjuang lebih keras. Jadi pengen dapet bukunya Pak Masri, nih.
Motivasi saya tetap menulis adalah supaya cerita saya bisa dibaca. Senang rasanya berbagi cerita dengan anak-anak. Syukur-syukur pesan dalam cerpen saya tertanam dalam sanubari mereka dan bisa menginspirasi mereka. Kan nambah pahala. He…he…he…
11.
sri sayekti | Februari 7, 2008 at 9:02 am
Menulis bukan kehidupan, tetapi dapat menjadi cara untuk kembali “hidup”. Setiap hari adalah sebuah peristiwa yang bisa dirangkai menjadi sebuah tulisan-tulisan yang indah dan beragam. Tanpa menulis, beban yang ada dihati dan tak bisa diungkapkan, bisa dituangkan ke dalam sebuah cerita-cerita, baik suka dan duka.
Namun, saya penasaran apakah dengan menulis akan menjadi kaya? Sebab kesempatan itu tidak pernah ada dalam kehidupanku meski saya senang sekali menulis dan pernah mengirimkan tulisan-tulisan saya ke media.
Mungkin, buku ini yang saya cari…
12.
desi umbul | Februari 14, 2008 at 2:29 am
Hmm, buku ini memang sangat menarik! Dari judulnya sudah dapat memotivasi banyak orang untuk kembali menulis. Yang dulu mungkin sudah pernah menulis tapi macet, atau mereka yang baru mulai menulis. Apalagi sekarang, banyak sekali fasilitas yang memungkinkan orang untuk menulis. Paling gampang ya SMS. Di internet sudah banyak penyedia webblog gratisan, yang bisa dimanfaatkan seluas-luasnya. Ditambah iklim politik yang mulai ramah, siapapun bisa menulis dan bebas menulis apa saja!
Satu lagi, buku ini menawarkan beragam kemungkinan dari ketrampilan menulis – yang dulu dianggap profesi sebelah mata. Apalagi oleh calon mertua… Banyak profesi menulis, mulai dari menulis di media cetak maupun yang menulis di media elektronik. Apa ini? Maksudnya menulis skrip film atau sinetron. Bahkan menulis skrip iklan. Ternyata dari menulis ini bisa dapat penghasilan yang lumayaaan, bisa untuk beli mobil dan rumah.
Sayangnya, meskipun saya sudah menulis beberapa buku, tapi masih juga belum bisa menggantungkan hidup dari royalti. Meski kepuasan batin ada. Sepertinya buat memotivasi diri, buku pak Masri cocok buat saya…
13.
M. Akmal | Maret 5, 2008 at 1:41 am
Assalamu’alaikum wr wb,
apa masih ada lowongan buat ngikut ’sayembara komentar’? ^^
Dunia tulis menulis Indonesia ke depan …. akan muncul talent-talent baru membawakan karya-karya yang segar. Apalagi kalau bisa belajar
dari Jepang, hehe… kalau di sana ada ‘dunia mimpi-nya perkomikan’,
harapan di Indonesia kemungkinan bisa jadi ‘dunia mimpi-nya pernovelan’.
menyusul dunia perfilman yang makin oke aja.
Mimpi kali yeee
…. but, kita bisa menggapai sesuatu yang kita inginkan
karena satu hal itu bukan? … yaitu “MIMPI”
Sebagaimana saya dulu, cita2 pertama pengen jadi insinyur pertanian dan
cita2 ke dua ingin jadi pengarang. Waktu SD setiap kali melihat buku komik
di toko buku saya selalu berpikir, “Kapan ya saya bisa bikin yang kayak gini…?
Suatu hari nanti pasti… ya, pasti.” Dan kini… saya mungkin bisa dikatakan
telah mencapai cita2 yang ke dua itu meski masih butuh banyak belajar
belajar dan belajar lagi. (cita2 pertama sudah tidak minat samasekali, haha…)
Akhir kata, senang rasanya kalo bisa dapat buku gratisan, ::tertawa lagi::
Buat Bapak R. Masri Sareb Putra, sukses selalu.
Wassalamu’alaikum wr wb,
M. Akmal
14.
Diena | Maret 7, 2008 at 7:58 am
Bismillah,
Salam kenal,
1. Saya terkaget kaget saat mengetahui jumlah peserta lomba menulis novel yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta tahun 2006 yang mencapai 249 peserta hingga membuat sang juri mabuk naskah. Angka ini sangat mengejutkan baik bagi saya hingga saya berfikir kalau Indonesia akan dipenuhi oleh penulis novel. Bahkan sekarang ini banyak sekali saya temui lowongan menulis naskah untuk penerbit dan tentu saja ini mengindikasikan kalau prosperk dunia menulis dewasa ini sangat menjanjikan. Yah, ada kemungkinan suatu saat Indonesia benar-benar akan kehabisan stok kertas karena kegilaan orang-orang untuk menulis.
2. Meski saya pernah menjadi finalis lomba menulis novel yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2003, sampai detik ini pun saya belum pernah menerbitkan satu naskah pun!. Bahkan naskah saya yang menjadi finalis itu tidak saya tawarkan ke penerbit mana pun. Kenapa?. Ah paling-paling kalau sudah jadi duit dapetnya nggak seberapa, pikir saya. Saya ikut lomba novel DKJ karena hadiah totalnya 100 juta!. Ketika saya baca pengumuman di blog ini ada buku yang judulnya Berani Menulis Berani Kaya, saya terkejut. Benarkah??. Judul tersebut mengingatkan saya pada Habiburrahman El Shirazy penulis Ayat-Ayat Cinta yang mendapat 800 juta untuk buku tersebut. Tapi angka itu saya ragukan meski sumbernya terpercaya, benarkah sebagai penulis dia mendapat uang 800 juta?. Bagaimana?. Saya sudah paham mengenai perhitungan royalti di penerbitan tapi rasanya kok ya jauh dari angka itu meski tulisannya menjadi best seller. Nah saya ingin tahu, apakah buku Berani Menulis Berani Kaya itu dapat meruntuhkan keraguan saya. Saya tertarik untuk mendapatkannya. Semoga saja!!
Salam,
Diena
15.
Diena | Maret 7, 2008 at 8:21 am
Bismillah,
Salam kenal,
1. Saya terkaget kaget saat mengetahui jumlah peserta lomba menulis novel yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta tahun 2006 yang mencapai 249 peserta hingga membuat sang juri mabuk naskah. Angka ini sangat mengejutkan baik bagi saya ataupun dewan jurinya sediri hingga saya berfikir kalau Indonesia akan dipenuhi oleh penulis novel dalam waktu dekat ini. Bahkan sekarang ini banyak sekali saya temui lowongan menulis naskah untuk penerbit dan tentu saja ini mengindikasikan kalau prosperk dunia menulis dewasa ini sangat menjanjikan. Yah, ada kemungkinan suatu saat Indonesia benar-benar akan kehabisan stok kertas karena kegilaan orang-orang untuk menulis.
2. Meski saya pernah menjadi finalis lomba menulis novel yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2003, sampai detik ini pun saya belum pernah menerbitkan satu naskah pun!. Bahkan naskah saya yang menjadi finalis itu tidak saya tawarkan ke penerbit mana pun. Kenapa?. Ah paling-paling kalau sudah jadi duit dapetnya nggak seberapa, pikir saya. Saya ikut lomba novel DKJ karena hadiah totalnya 100 juta!. Ketika saya baca pengumuman di blog ini ada buku yang judulnya Berani Menulis Berani Kaya, saya terkejut. Benarkah??. Judul tersebut mengingatkan saya pada Habiburrahman El Shirazy penulis Ayat-Ayat Cinta yang mendapat 800 juta untuk buku tersebut. Tapi angka itu saya ragukan meski sumbernya terpercaya, benarkah sebagai penulis dia mendapat uang 800 juta?. Bagaimana?. Saya sudah paham mengenai perhitungan royalti di penerbitan tapi rasanya kok ya jauh dari angka itu meski tulisannya menjadi best seller. Nah saya ingin tahu, apakah buku Berani Menulis Berani Kaya itu dapat meruntuhkan keraguan saya untuk menjadi penulis. Saya tertarik untuk mendapatkannya. Semoga saja!!
Salam,
Diena
16.
Detik@ | Maret 8, 2008 at 2:04 am
@ Diena:
1. Kalau toh pun Indonesia akan kebanjiran penulis-penulis novel, bukankah itu tidak masalah? Yang jelas, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia saat ini, jumlah penulis masih lagi teramat sedikit. Makin banyak penulis, makin banyak pula penulis Indonesia yang memiliki kesempatan untuk ikut mewarnai jagat penulisan internasional dengan wajah Indonesia.
2. Kenapa tidak? Sampai dengan hari ini, tengok saja sudah berapa kali naik cetak buku tersebut. Belum lagi copyright yang didapatkan penulisnya saat diadaptasi ke layar lebar. Roman Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer melewati angka Rp1 milyar saat copyright-nya hendak diadaptasi ke layar lebar. Penjualan bukunya? Dengan skala internasional karena diterjemahkan ke lebih 40 bahasa di seluruh dunia, tentu lebih mengerikan lagi secara angka. Meski bukan tujuan utama, penulis memang bisa kaya dari menulis. Tertantang?
-Daniel Mahendra-
17.
Detik@ | Maret 8, 2008 at 2:14 am
@ Semua:
Seluruh komen yang masuk untuk mengomentari buku “Berani Nulis, Berani Kaya” email-nya tercatat pada admin kami. Kami akan menghubungi melalui email: siapa-siapa saja yang berhak mendapatkan buku tersebut secara gratis. Beribu terima kasih kami ucapkan atas partisipasinya.
-DM-
18.
Enny Anggoro | Maret 17, 2008 at 7:39 am
Menjadi penulis? Hmm…itulah cita-cita sejak masa kecil yang belum juga tercapai hingga kini …. Saya baru saja mendapat e-mail tentang adanya buku “Berani Nulis Berani Kaya” ini dari seorang teman, dan langsung saya cari di Google. Rasanya sudah nggak sabar untuk membacanya, apalagi dengan adanya keputusan saya untuk resign dan menjadi ibu rumah tangga, rasanya keinginan untuk menjadi penulis semakin dalam dan menguat. Semoga setelah membaca buku ini, pengetahuan saya tentang dunia tulis menulis jadi bertambah, dan tentunya semangat menulis jadi terlecut dan akhirnya….bisa jadi salah satu penulis yang bisa membagi pengalaman dan pengetahuan yang saya miliki untuk kemaslahatan ummat…
-Enny Anggoro-
19.
Enny Anggoro | Maret 17, 2008 at 7:43 am
Menjadi penulis? Hmm…itulah cita-cita sejak masa kecil yang belum juga tercapai hingga kini …. Saya baru saja mendapat e-mail tentang adanya buku “Berani Nulis Berani Kaya” ini dari seorang teman, dan langsung saya cari di Google. Rasanya sudah nggak sabar untuk membacanya, apalagi dengan adanya keputusan saya untuk resign dan menjadi ibu rumah tangga, rasanya keinginan untuk menjadi penulis semakin dalam dan menguat. Semoga setelah membaca buku ini, pengetahuan saya tentang dunia tulis menulis jadi bertambah, dan tentunya semangat menulis jadi terlecut, dan akhirnya….bisa jadi salah satu penulis yang bisa membagi pengalaman dan pengetahuan yang saya miliki untuk kemaslahatan ummat…
-Enny Anggoro-
20.
Hendra | Mei 11, 2008 at 1:56 pm
Wah luar biasa… selain bisa menggugah untuk menjadi lebih percaya diri dan lebih kreatif, ada baiknya kita bahas – atau diobok-obok bukunya dalam bedah buku, saya siap bantu deh cari pesertanya, saya daftar duluan ya he he …
Thanks loh … ditunggu buku gratisnya hik hik